Pendemo PT. Socfindo Aceh Singkil Diduga Dihadang Kelompok Preman

Kupasan.com – Aksi damai yang digelar oleh puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Gerakan Aliansi Pemuda Aceh Singkil (GASPAS), menuntut PT. Socfindo yang berada di kawasan permukiman kota Aceh Singkil tersebut untuk dapat dipindahkan ke kawasan perkebunan sempat ricuh, Kamis (28/8).

Para mahasiswa dihadang sekelompok pria tak dikenal yang diduga kuat merupakan oknum preman bayaran, saat baru tiba di depan PT. Socfindo Kebun Lae Butar, Kecamatan Gunung Meriah.

Koordinator Aksi GASPAS, Aidil Syahputra menyebutkan, kehadiran sejumlah orang tak dikenal yang diduga kuat berperan sebagai preman tersebut dinilai sebagai upaya untuk mengintimidasi massa aksi dan melemahkan perjuangan masyarakat yang sedang menyuarakan aspirasi terkait berbagai pelanggaran yang dilakukan PT. Socfindo.

“Kami belum sempat orasi. Baru tiba, langsung diserbu oleh sejumlah pria berbadan besar. Mereka melarang kami masuk, dan mobil komando aksi sempat di dorong, beruntung tidak terjadi adu fisik, karena kami tidak mau terjadi hal-hal seperti itu. Kami hanya ingin menyuarakan aspirasi terkait berbagai pelanggaran PT. Socfindo tersebut,” ungkap Aidil Syahputra Kordinator Aksi.

Menurut Aidil, dugaan keterlibatan pihak perusahaan dalam menghadirkan preman tersebut merupakan suatu tindakan yang mencederai demokrasi.

“PT Socfindo tidak siap menghadapi kritik secara terbuka sehingga diduga menempuh jalan dengan menghadirkan orang-orang tak jelas untuk menakuti warga. Ini bentuk pelecehan terhadap kebebasan berekspresi,” katanya.

Dalam aksi tersebut, kata Aidil, ada dua poin utama yang kami suarakan. Pertama, pabrik di Desa Rimo dianggap melanggar Qanun Nomor 2 Tahun 2013 tentang tata ruang.  Kedua, aktivitas perusahaan diduga menyalahi aturan sempadan sungai di sekitar areal kebun.

“Kami menolak keberadaan pabrik di tengah pemukiman. Selain itu, sempadan sungai harus dikembalikan sesuai aturan agar masyarakat tidak dirugikan,” katanya.

Sementara itu M. Yunus, Koordinator lapangan aksi meminta agar pihak aparat kepolisian untuk tidak menutup mata terhadap praktik premanisme yang dilakukan saat aksi tersebut.

“Polisi tidak boleh membiarkan praktik-praktik premanisme di depan mata. Kami minta Kapolres Aceh Singkil harus segera menangkap dan memproses orang-orang tersebut secara hukum,” ujarnya.

Perjuangan GASPAS tidak akan pernah surut meskipun adanya terjadi intimidasi dari berbagai pihak.

“Perlawanan akan semakin kuat karena rakyat merasa haknya diabaikan dan diserang dengan cara-cara yang tidak bermartabat,” tegasnya.

Pos terkait