Sudah Antri Berjam-jam, Warga Aceh Singkil Kecewa Tak Kebagian Beras Murah

Kupasan.com – Sejumlah warga kecewa tak mendapat jatah untuk membeli beras premium setelah mengantre dan berdesakan berjam-jam di program pasar murah yang digelar Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil, di Pekan Lama, Desa Pasar, Kecamatan Singkil, Rabu (30/7).

Bahan yang dijual pada pasar murah yang diselenggarakan Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Provinsi Aceh tersebut, hanya berupa beras premium isi 5 Kilogram.

Sayangnya, jumlah barang yang dijual murah itu terbatas sehingga banyak warga yang tak kebagian, hingga menyisakan kekecewaan. Padahal mereka sudah antre sejak pagi, bahkan beberapa ada yang sudah meminjam uang dulu untuk menebus barang murah tersebut.

“Namanya emak-emak, ada sembako murah pasti tertarik. Apalagi sekarang lagi zaman susah duit, dari pagi saya antre, eh ternyata tidak kebagian,” kata Yuli warga Desa Pulo Sarok, Kecamatan Singkil.

Padahal Yuli sudah bersiap untuk membeli dengan berbekal uang pinjaman. Tapi rezeki dapat barang murah urung dia raih.

“Bela-belain pinjam uang, terus antre dari pagi, ah dasar belum rezekinya,” ujarnya.

Pasar murah itu menjual beras premium isi 5 kilogram seharga Rp 56 ribu, di pasaran harganya kisaran Rp 87 ribu. Setiap warga hanya diperbolehkan membeli dua sak beras ukuran 5 kilogram.

“Lumayanlah selisihnya, makanya kami mau antre dari pagi,” kata Yuli.

Kekecewaan juga dirasakan Iswan warga setempat, dia yang juga antre sejak pagi gagal mendapatkan beras murah.

“Ini tandanya masyarakat lagi susah, beli saja sampai desak-desakan dan nggak kebagian, apalagi kalau gratis. Harus lebih sering pemerintah bantu masyarakat,” kata Iswan.

Iswan mengaku awalnya sangat berharap bisa membeli sembako murah tersebut. Sayang usahanya kandas di kerumunan.

“Seharusnya ada sistem kupon sejak awal. Tadi ada yang sudah beli dobel karena datang lebih dulu, sementara kami yang datang sedikit terlambat tidak kebagian,” ujar Iswan, mengungkapkan kekecewaannya.

Ia menilai manajemen distribusi yang kurang rapi menjadi penyebab utama kekisruhan ini. Menurutnya, tanpa sistem pengendali seperti kupon, penyaluran menjadi tidak adil dan rentan berebut

“Pendistribusian beras juga tergolong molor. Pendistribusian beras baru dimulai pukul 12.00 WIB siang, sehingga banyak warga yang kesal lambannya penyaluran dan pulang dengan tangan kosong karena stok habis sebelum mereka mendapatkan bagian,” tutup Iswan.

Sementara itu Joni Azhari, petugas Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Provinsi Aceh, saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, distribusi beras ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk menekan lonjakan harga pangan dan mengatasi kelangkaan beras di sejumlah wilayah.

Di Aceh Singkil, program tersebut dilaksanakan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Singkil dan Kecamatan Gunung Meriah.

“Untuk wilayah Aceh Singkil disalurkan di dua kecamatan, masing-masing sebanyak 980 sak atau setara 4.900 kilogram beras premium,” kata Joni Azhari.

Artinya total pendistribusian beras premium itu untuk wilayah Aceh Singkil total sebanyak 1.960 sak berat 9.800 Kilogram atau 2 ton.

Setiap sak beras memiliki berat lima kilogram, dan dijual dengan harga subsidi Rp6.000 per kilogram.

Kegiatan ini, menurut Joni, merupakan bagian dari program penanganan inflasi yang dilaksanakan serentak di 23 kabupaten/kota di Aceh dengan menggunakan dana APBA murni tahun 2025.

Pos terkait